Terjebak “Working at Home Mother”?

Sore tadi ngobrol dengan rekan seller online.

“Aku pengen cuti jualaaan..” teriaknya di YM. Saya tersenyum,memahami betapa lelahnya dia sebagai pedagang grosir. Kalau pedagang seperti saya terbelalak dengan omset bulanan yang tembus 8 digit,8 digit itu bisa dia capai dalam dengan 1 buyer saja dalam sehari. Saya punya partner yang handal dan bs diajak sharing,disupport oleh 2 orang asisten, dia? Semua dipegang sendiri. Asisten yang cekatan dan jujur sulit dia temukan. Siapa orang jujur di belantara jakarta yang bisa mengikuti “kegilaannya” dalam berdagang,pikir saya.

“Aku cape..huhu”
“Dah,istirahat aja. Nikmati hasil usahamu dulu gih” sahut saya.
“Ga tau say,anakku bertingkah..dst dst”
Saya menarik napas. Khas problem working at home moms (WAHM).
“Mungkin dia caper,say. Pengen diperatiin. Qia juga gitu kalo liat aku kelamaan depan laptop. Mereka liat ibunya di rumah,tapi kenapa ga nemeni mereka..”
“Iya..hiks..”

Dan percakapan terputus,masing2 dari kami melanjutkan aktivitas melayani konsumen lagi. “Terjebak” lagi.

Siapa dengan menjadi WAHM berarti bisa bersantai? Dini hari sebelum Qia bangun,saya mengecek pekerjaan karyawan kmrn, dilanjutkan membuat to-do-list hr ini. Diskusi dgn Nurul ttg apapun berkaitan dgn toko. Lanjut subuh.. Lalu untungnya tak perlu menyiapkan sarapan,cukup memikirkan menu apa,dan Nia akan membuatkannya.

Melakukan apa yang bisa dilakukan sebelum Qia bangun pagi. Karena begitu dia bangun,waktu saya adalah miliknya. Teorinya.

Tapi tak jarang saat karyawan bingung dgn pertanyaan konsumen, saat ada komplain mengapa paket terlambat, saat karyawan harus membuat keputusan, saat ada error di inventory, saat telp,sms,YM,dan email datang bersamaan.. Saya kembali harus menekuni layar laptop,layar hp. Membiarkan Qia menunggu saya yang tidak jadi menggambar pinguin untuknya.

Hei..saya memilih untuk bekerja dari rumah agar bisa bersama Qia kan? Tapi kenapa justru saya malah berada di sampingnya,tapi tetap tidak ada untuknya? Bukankah itu lebih mengecewakan dia?

Kok rasanya sebagai “pengusaha” rumahan,saya masih jauh. Ambisi begitu tinggi,namun kemampuan memanage waktu dan sumber daya di titik rendah. Sebagai ibu pun jadi setengah-setengah rasanya. Sebagai istri? (halaw,suami,makasih dah bersabar saat pulang,istri kadang terlihat sama letihnya)

Hm,apa yang salah? Kadang bertanya dengan para WAHM lain,dan ternyata mereka pun sama. Tak kalah letih dari wanita karir. Bahkan waktu tidur dipangkas,demi fokus bekerja saat si kecil tidur.

Bukan,bukan profesi ini tidak menyenangkan. Ada saat2 dimana saya dan rekan merasa begitu antusias,begitu pembeli memuji produk dan layanan kami. Ada rasa bangga saat pembeli baru mampir krn mendapat rekomendasi dari temannya. Ada pencapaian2 yang membuat kami belajar bnyk hal baru. Mendobrak dunia yang dulu begitu jauh.

Tapi..kdg saat melihat Qia yang merebut hp saat saya menerima telp, merebut mouse saat chat, merebut pena, nota, apapun..mengalihkan perhatian saya. Saya kok jadi merasa seolah “terjebak” ya? Apa yang salah? Bagaimana menjadi WAHM yang baik?

Posted by Wordmobi

4 responses to this post.

  1. haha.. nyontek ya bu😛 ko bisa posting di hari yang sama … hahaha…

    tapi dipikir2, dimana2 manusia memang selalu mengeluh, coba liyat sisi positifnya, dengan ini kita bisa ngajarin si kecil biar kelak jadi pengusaha yang jauh lebih baik dari kita.. he he.. kan si kecil ngerekam bener apa yang dilakukan ibu nya setiap hari, someday kalo si kecil kita mulai suka bertanya “kenapa”.. dia akan sangat tau alasannya🙂 yuuk semangat lagi..

    Balas

    • Yuuu..semangat lagiiii . Ini curhatan keluar gara2 ada problem di bahan dudul kmrn😀, rasanya jadi cape dan pengen nyampah Hehehe, tapi ini trus semangat lagi gara2 ada buyer yang dirimu critain muji tekstur “bahan yang ngabisin banyak duit itu”. Huehehehe

      Balas

  2. trnyatah… yg aku rasain selama ini ada temennyaahh. kalo aku bkn jualan dil. tapi desain web. aku juga sering mwrasa bersalah dan minta maaf ke Ziyad. di satu sisi aku seneng bisa kerja di rmh, kerjaan yg aku minati jg. tp.. yah smg allah memudahkan. btw, boleh tau bisnisnya dila apa? di aboutnya malah ga ada infonyah

    Balas

  3. semangat mba…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: